Powered By Blogger

Cari Blog Ini

hikmah

Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Maret 2010

khutbah jum'at

KHUTBAH JUM’AT
Musibah Sebagai Cobaan
Khutbah Pertama
الحَمْدُ ِللهِ الَّذِي أَمَرَناَ باِلاِْعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ وَالإِبْتِعاَدِ عَنِ العاَدَاتِ الجاَهِلِيَّةِ. وَالصَلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ مُحَمَّدٌ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا نَبِيَّ الرَحْمَةِ وَقُدْوَةَ الأُمَّةِ لِنَيْلِ السَعَادَةِ فيِ الدُنْيَا وَالآخِرَةِ، فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوصِيْكُمْ وَإِيّاَيَ بِتَقْوَى اللهِ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Hadirin Sidang Jama’ah Jum’at yang dirahmati Oleh Allah SWT.
Marilah kita memanjatkan puji syukur kita kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kita ni’mat Iman, ni’mat islam dan ni’mat kesehatan.
Sholawat dan salam senantiasa kita kirimkan kepada junjungan kita Nabiullah Muhammad SAW,Nabi yang memberikan kita syafa’at di hari kiamat nanti.
Hadirin sidang jama’ah jum’at yang dirahmati oleh Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Al Qur’anul karim.
وَمَا أَصَابَ مِنْ مُصِيْبَةٍ فِى اْلأَرْضِ أِلاَّ فِى كِتَابٍ مِنْ قَبِلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ.
Dan tidaklah musibah yang terjadi di muka bumi ini kecuali telah termaktub dalam kitabnya, dan sesungguhnya itu sangatlah muda bagi Allah.
Segala bentuk cobaan silih berganti di Negara kita ini, mulai dari musibah alam gempa, banjir, tanah longsor, sampai musibah kemanusiaan. Kesabaran kita sebagai manusia kembali diuji oleh Allah SWT melalui ujian-ujiannya. Dengan musibah itu, Mungkin Allah ingin menaikkan derajat ketaqwaan kita ke tingkat yang lebih tinggi. Atau mungkin Allah menguji kesabaran kita sebagai hambanya. Atau mungkin Allah benar-benar murka karena dosa-dosa kita. Namun segala musibah itu sudah ditentukan Allah sesuai dengan kemampuan kita,
Allah berfirman dalam Al Qur’an AL karim
لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إٍلاَّ وُسْعَهَا ......
Tidaklah Allah memberikan cobaan kepada seseorang kecuali atas kemampuannya.
Hadirin Sidang Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SWT.
Hujjatul Islam Al Imam Al Ghozali membagi tingkatan kehidupan manusia menjadi 4 tingkatan.
Pertama. Saidun Fi Addunya, Wa Saqiun Fi Akhirah. (Berbahagia didunia, tetapi Celaka Di akhirat.
Siapakah orang-orang itu? Mereka adalah orang yang diberikan kelebihan segala bentuk ni’mat duniawi, kebahagiaan dunia dengan isinya namun lupa kepada Sang Kholik, pemberih segala kenikmatan. Harta yang berlimpah, kedudukan yang tinggi, kendaraan yang mewah, istri yang cantik membuatnya lupa untuk bershodaqoh, berinfaq.
Allah berfirman.َ
لَئِنْ شَكَرْتُمْ َلأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِىْ لَشَدِيْدٌُ
Apabila engaku bersyukur, maka kutambahkan ni’amtku, dan apabila engaku kufur, maka sesungguhnya Azabku sangatlah pedih.
Kedua. Saidun Fi Akhirah, Wa Saqiun fi Dunnya. (Berbahagia di akhirat, tetapi menderita di dunia)
Siapakah orang-orang itu ? Mereka adalah orang-orang yang tidak mendapatkan kenikmatan dunia, namun tidak menjadi pengahalang baginya untuk beribadah sebaik mungkin kepada Allah SWT. Bukankah kehadiran kita di muka bumi ini tak lain untuk beribadah kepada Allah SWT.
َومَاخَلَقْتُ اْلجِنَّ وَاْلأِنَس إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ. ( الذاريات : 59)
Dan tidaklah Aku menciptakan manusia, kecuali hanya untuk menyembahku.
Ketiga. Saqiyyun Fi Addunya, Wa Saqiyyun fi Akhirah. (menderita di dunia, menderita juga di akhirat.)
Siapakah orang-orang itu? Mereka adalah orang yang tidak diberikan kenikmatan dunia dan juga tidak mendapatkan kenikmatan di akhirat. Kata pepatah. Sudah terjatuh, tertimpa tangga lagi.
Keempat. Saiidun Fi Addunya, Wa Saiidun Fi Akhirat. (Bahagia di dunia, dan juga bahagia di akhirat.)
Siapakah orang-orang itu? Mereka adalah orang yang diberikan kenikmatan dunia, dan menjadikannya sebagai kendaraan untuk membekali diri untuk akhirat kelak nanti. Dunia ini adalah kebun akhirat. Sebanyak mungkin kita menanam kebaikan, maka sebanyak itu pula kita akan memetik kenikmatan di akhirat nanti. Demikian pula sebaliknya, semakin banyak kita menanam kejahatan, maka sebanyak itu pula azab yang diberikan oleh Allah kepada kita.
Sidang Jama’ah jum’at yang dirahmati oleh Allah SWT.
Gemerlap kehidupan dunia ini, menyilaukan mata kita, mata lahir, dan mata batin kita. Begitu banyak ayat-ayat Allah yang mengingatkan kita akan tipu daya kehidupan dunia. Allah berfirman :
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ لَعِبٌ وَلَهْوٌ
Dan tidaklah kehidupan dunia itu, kecuali hanya permainan dan gurau.
Sidang jama’ah jum’ay yang dirahmati oleh Allah SWT.
Ketika manusia sudah tidak cukup untuk diingatkan dengan Ayat-ayat Al qur’an, maka ayat Allah yang lainnya pun akan turun, diantaranya, bencana alam berupa banjir, tanah longsor, Tsunami, amukan angin, api. Bencana kemanusiaan, kelaparan, kejahatan terjadi di mana-mana. Semua ini juga adalah ayat ayat Allah yang merupakan tanda kekuasaannya. Tak kalah kerusakan terjadi dimana-mana akibat ulah tangan manusia, maka Allah pun tidak segan untuk membuat alam kita untuk tidak bersahabat lagi.
Begitu muda nyawa manusia meregang melayang karena musibah, maka tidak kah kita sadar ?
Sidang jama’ah jum’at yang dirahmati Allah SWT.
Dengan berbekal keyakinan dan kesabaran, kita hadapi cobaan itu dengan kesabaran. Allah berfirman.
وَاسْتًعِيْنُوْاباِلصَّبْرِوَالصَّلاَةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ
Dan meminta pertolonganlah kamu kepada Allah dengan sabar dan sholat, sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.
أقول ماتسمعون وأستغفرالله العظيم لي ولكم ولسائرالمسلمين مااستغفروه إنّه هوالغفورالرّحيم.

الخطبةالثانيّة

الحمدلله حمداكثيراطيّبامباركافيه والصّلاة والسّلام علىرسوله المبعوث رحمة للعالمين وعلىآله وصحبه أجمعين.
عبادالله!
صلّواوسلّمواعلىمن أمركم باالصّلاة والسّلام عليه فقال:"إنّ الله وملائكته يصلّون علىالنّبي ياأيّهاالذين آمنواصلّواعليه وسلّمواتسليما"- الأحزاب:56.
وقدقال:"من صلّىعليّ صلاة صلّىالله عليه بهاعشرا"- رواه مسلم
اللهمّ فصلّ وسلّم علىنبيّك وحبيبك محمّدواعرض عليه صلاتناوسلامنافي هذه السّاعةالمباركة ياربّ العالمين. وارض اللهمّ عن الصّحابةأجمعين وعن التابعين ومن تبعهم بإحسان إلىيوم الدّين وعنّامعهم بعفوك وكرمك وميّك ياأرحم الرّاحمين.
اللهمّ اغفرللمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياءمنهم والأموات من مشارق الأرض إلىمغاربهاإنّك أنت الغفورالرّحيم.
اللهمّ أعنّاعلىذكرك وشكرك وحسن عبادتك. اللهمّ اجعلنامقيمي الصّلاة ومن ذرّيّتك ربّناتقبّل دعائناربّنااصرف عنّاعذاب جهنّم إنّ عذابهاكان غراباإنّهاساءت مستقرّاومقاما.
عبادالله!
إنّ الله يأمركم باالعدل والإحسان وإيتاءذي القربى وينهىعن الفهشاءوالمنكروالبغي يعظكم لعلّكم تتّقون. فااذكرواالله العظيم يذكركم وشكرواعلىنعمه يزدكم ولذكرالله أكبر، أقم الصّلاة.

khutbah jum'at,hakekat Islam

Makna Islam

Oleh: Abu Abdir Rahman

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ واَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ اَلْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ اهْتَدَى بِهُدَاهُ وَعَمِلَ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أًمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada saudara-saudara sekalian, marilah kita tingkatkan Islam, iman dan taqwa kita kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala karena hanya dengan Islam, iman dan taqwa itulah kita akan mendapatkan kebahagiaan baik di dunia terlebih lagi Insya Allah di akhirat.

Untuk itu pada khutbah kali ini mengambil sebuah judul “MAKNA ISLAM”

As-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab “Ushul Tsalatsah”, berkata:

اْلإِسْلاَمُ هُوَ اْلاِسْتِسْلاَمُ لِلَّهِ بِالَّتْوِحْيِد وَاْلاِنْقِيَادُ لَهُ بِالطَّاعَةِ وَاْلاِبْتِعَادُ عَنِ الشِّرْكِ.

Artinya: “Islam itu ialah berserah diri kepada Allah dengan meMaha EsakanNya dalam beribadah dan tunduk dengan melakukan ketaatan dan menjauhkan diri dari syirik.”

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 112:

Artinya: “(Tidak demikian), bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah sedang ia berbuat kebajikan,maka baginya pahala pada sisi TuhanNya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Adapun sendi-sendi Islam itu ada lima sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ؛ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ.

Artinya: “Dari Abdillah bin Umar Radhiallaahu anhu Berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Islam itu didirikan atas lima perkara:

1. Bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah dengan benar selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah

2. Mendirikan shalat

3. Mengeluarkan zakat.

4. Menunaikan ibadah haji

5. Berpuasa di bulan Ramadlan.”

Inilah sendi-sendi Islam, yang menyebabkan seseorang keluar dari lingkaran kekafiran dan yang menyebabkan seseorang masuk Surga dan jauh dari siksa Neraka.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Lima sendi tersebut di atas merupakan rukun Islam. Barangsiapa menjalankannya dengan sempurna, maka ia termasuk muslim yang sempurna imannya, dan barangsiapa yang meninggalkan seluruhnya, maka ia adalah kafir yang nyata. Dan barangsiapa mengingkari salah satu dari padanya, maka para ulama’ bersepakat bahwa ia bukan muslim. Dan barangsiapa yang meyakini seluruhnya dan ia menelantarkan salah satu darinya selain syahadat maka ia adalah fasiq dan barangsiapa yang beramal hanya sebatas lisannya saja tanpa dibarengi dengan I’tigad, maka ia adalah munafiq.

Allah Ta’ala berfiman dalam surat Ali Imran ayat 19.

Artinya: “Sesungguhnya agama (yang benar) di sisi Allah hanyalah Islam”.

Maksud dari ayat di atas, bahwa sesungguhnya tidak ada agama yang diterima di sisiNya dari seseorang selain Islam.

Maka barang siapa menganut suatu agama selain syari’at nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam setelah diutusnya beliau, maka agama itu tidak di terima di sisi Allah Subhannahu wa Ta'ala .

Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 85.

Artinya: “Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima daripadanya, sedang ia di akhirat kelak termasuk golongan orang yang merugi.”

Yakni barangsiapa menjalankan agama selain apa yang disyari’atkan oleh Allah kepada RasulNya, maka tak akan diterima daripadanya di sisi Allah dan ia kelak di akhirat termasuk di antara orang-orang yang merugi.

Sebagaimana sabda nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam dalam hadist yang shahih:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

Artinya: “Barangsiapa melakukan suatu amal, yang tidak didasari keterangan kami, maka ia adalah tertolak”.

Berdasarkan hadist di atas telah jelas sekali bagi para hamba yang beriman kepada Allah dan hari akhir, bahwa apa saja yang berhubungan dengan syariat, baik dari segi aqidah maupun ibadah, baru akan diterima di sisi Allah apabila hal itu sesuai dengan apa-apa yang telah diajarkan oleh Allah kepada RasulNya. Sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 31.

Artinya: “katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah maha Pengampun lagi Maha penyayang.”

Dan Allah Ta’ala telah berfirman pula, dalam surat Al-Hasyr ayat 7.

Artinya: “Apa yang diberikan oleh rasul maka terimalah ia. Dan apa yang di larangnya bagimu maka tinggalkanlah dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Bila dipandang dari sejak syari’at di turunkan sampai hari akhir nanti, maka Islam itu dapat dibagi dua, yaitu:

1. Islam dipandang dari segi umum

2. Islam dipandang dari segi khusus

Islam dipandang dari segi umum, bahwa sejak rasul yang pertama sampai hari akhir nanti, syari’at mereka adalah Islam yang berarti, tunduk beribadah hanya kepada Allah semata, karena itu mereka disebut Al-Muslimun.

Islam dipandang dari segi khusus, bahwa sejak diutusnya Rasul yang terakhir, yang mana ia adalah penyempurna bagi syari’at sebelumnya, serta menjadi penutup bagi segenap rasul, maka barangsiapa dari ummat manusia, yang tidak beriman kepada Nabi Muhammadsaw , maka ia kafir.

Sebagaimana yang tersebut di dalam hadist yang shahih bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنُ بِالَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارَ. (رواه مسلم)

Artinya: Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Demi dzat yang diri Muhammad berada di tanganNya, tidaklah seseorang mendengar tentang aku dari umat ini, baik itu kaum Yahudi atau kaum Nasrani, kemudian meninggal sementara ia belum mau beriman kepada apa yang aku bawa, melainkan ia akan menjadi penghuni Neraka.” (hadits Muslim)

أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّ‍هِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ؛ مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ.

Kita harus yakin bahwa Islam, adalah agama yang benar di sisi Allah dan selainnya adalah batil Dan kita meyakini, bahwa Islam adalah agama yang telah sempurna. Sebagaimana telah tersebut dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 3:

Artinya: “Pada hari ini telah aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah ku-ridlai Islam itu jadi agama bagimu”.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Itulah Islam, Allah telah memberi kabar kepada nabiNya dan kepada seluruh kaum mu’minin, bahwa Ia (Allah) telah menyempurnakan bagi mereka Islam sebagai agama.

Dengan keputusan Allah ini, sekaligus merupakan keme-nangan bagi kaum mu’minim dan merupakan kesempurnaan dalam beragama.

Maka selesailah tugas Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dalam mengemban tugasnya dalam menyampaikan agama, dan bagi kaum mukminin, mereka tidak butuh lagi pengurangan ataupun penambahan selamanya.

Semoga Allah selalu membimbing kita semua ke jalan yang diridhaiNya. Amin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَحْيِنَا عَلَى اْلإِسْلاَمِ وَأَمِتْنَا عَلَى اْلإِيْمَانِ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

khutbah jum'at, sedekah membawa berkah

الحَمْدُ ِللهِ الَّذِي أَمَرَناَ باِلاِْعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ وَالإِبْتِعاَدِ عَنِ العاَدَاتِ الجاَهِلِيَّةِ. وَالصَلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ مُحَمَّدٌ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا نَبِيَّ الرَحْمَةِ وَقُدْوَةَ الأُمَّةِ لِنَيْلِ السَعَادَةِ فيِ الدُنْيَا وَالآخِرَةِ، فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوصِيْكُمْ وَإِيّاَيَ بِتَقْوَى اللهِ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Sedekah Membawa Berkah
Jama’ah Shalat Jumat yang dirahmati Allah
ِAlhamdulillah, segala puji bagi Allah pemilik alam semesta beserta seluruh isinya. Yang telah melimpahkan nikmat dan rahmat-Nya yang tak terhitung jumlahnya. Shalawat serta salam atas nabi kita Muhammad SAW yang telah membimbing kita menuju hidayah dan rahmat Allah SWT.
Marilah dalam kesempatan kali ini, kita terus bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Pembaharuan dan peningkatan taqwa merupakan hal yang sangat penting, karena ketaqwaan seseorang selalu berubah-ubah, kadang bertambah kuat dan terkadang berkurang.
Jama’ah Shalat Jumat yang dirahmati Allah
Manusia dimuka bumi ini memiliki tanggung jawab terhadap Allah SWT. Misi dari penciptaan manusia adalah sebagai khalifah/pemimpin yang bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan di muka bumi ini. Kelak manusia akan diminta pertanggungjawaban dihadapan-Nya akan hal-hal yang telah ditugaskan kepada mereka selama di dunia.
Seluruh apa yang ada di bumi dan di langit adalah milik Allah, manusia hanyalah diberikan hak untuk menggunakan kekayaan-Nya tersebut. Harta dan kekayaan yang kita miliki tak lain adalah titipan Allah SWT. Maka, suatu saat nanti harta dititipkan Allah kepada kita seperti (uang, rumah, kebun, anak, dll) semuanya akan diambil kembali oleh Allah, kemudian kita akan ditanya apa yang telah kita perbuat terhadap titipan Allah tersebut.
Tidakkah kita ikut merenungkan senandung syair Mahmud Hasan Al Warraq yang berkata, "Kurenungkan tentang harta dan penimbunannya, ternyata apa yang tersisa itulah yang bakal binasa. Sedang yang kunafkahkan di jalan kebaikan, baik secara ma'ruf atau ihsan maka dialah yang kekal dan karenanya aku dibalas (kebaikan), saat semua orang diberi balasan."
Al Hasan Al Bashri berkata, "Sejahat-jahat teman adalah uang dan harta-benda. Keduanya tidak akan bermanfaat untukmu kecuali ketika keduanya berpisah denganmu."
Harta adalah ni'mat. Barangsiapa takut kepada Allah dalam masalah harta, lalu membelanjakannya sesuai dengan yang diridhai-Nya, memberi makan fakir miskin, serta mengeluarkannya untuk menolong agama Allah dan meninggikan kalimat-Nya, niscaya Allah akan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya, Allah akan menjaganya dan memberkahi keluarga dan anak-anaknya. Memberikan kebahagiaan kepadanya di dunia, juga bahagia di akherat. Dan, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang diperjual-belikan. Ia adalah anugerah Allah bagi hamba-Nya yang ta'at dan memenuhi perintah-Nya.
Jika ada orang kaya, seorang pemimpin, direktur perusahaan ataupun seseorang yang sangat kita hormati mengatakan : “lakukanlah pekerjaan ini dan pekerjaan itu nanti engkau akan kuberi sesuatu imbalan yang besar” apakah kita akan menolak pekerjaan itu? Tentu, sedetik pun kita tidak akan terlambat untuk mengerjakan pekerjaan itu, sebab kita yakin dia (orang kaya) tersebut akan memberikan kita imbalan yang besar.
Lalu, tidak ada alasan satupun bagi kita untuk tidak yakin dan percaya akan janji Allah Azza Wajalla, Pemilik langit dan bumi, Dzat Yang Maha Agung, Maha Pengasih dan Maha Kaya. Tuhannya para pemimpin, Tuhannya orang-orang kaya, Tuhannya para direktur-direktur perusahaan. Allah telah berjanji dalam firman-Nya:
وَمَا تُقَدِّمُوا لأَِنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللهِ هُوَ خَيْرًا وَّأَعْظَمَ أَجْرًا. (المزمل: 20)
"Dan kebaikan apa saja yang engkau perbuat untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya." (Al Muzzammil: 20)
Orang yang berinfak (bersedekah) di jalan Allah seakan-akan memberi pinjaman kepada Allah, padahal Dia adalah Maha Kaya dan Maha Pemberi. Pilihan kata "qardh" (pinjaman) tentu karena begitu sangat mulianya kedudukan orang yang berinfak di sisi Allah. Di samping, kata "qardh" membawa makna hutang piutang, yang berarti Allah 'Dzat yang tidak menyelisihi janji-Nya' pasti membayar hutangNya tersebut.
مَنْ ذَا الَّذِي يَقْرِضُ اللهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيْرَةً. وَاللهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ. (البقرة: 245)
"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan." (Al Baqarah: 245)

Di ayat lain Allah menegaskan,
وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ. الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِي السَرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ المُحْسِنِيْنَ. (آل عمران: 133-134)
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (Ali Imran: 133-134).
Karena itu, bersegeralah saudaraku menuju Surga yang memang diperuntukkan Allah bagi segenap hamba-Nya yang bertakwa, yang di antara sifat-sifat mereka adalah menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang/kemudahan maupun sempit/kesulitan.
Sebaliknya, orang yang menimbun hartanya dan tidak mau menafkahkan sebagian daripadanya kelak pada Hari Kiamat Allah akan mengalungkan harta yang ia bakhilkan tersebut di batang lehernya, (Q.S.: 3: 180). Dengan emas dan peraknya 'padahal di dunia keduanya amat ia banggakan' yang telah dipanaskan dalam Neraka Jahannam, dahi, lambung dan punggung mereka dibakar/diseterika, (Q.S. 9:34-35)
وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ بِمَا آتاَهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَّهُمْ بَلْ هُوَ شَرُّ لَّهُمْ. سَيُطَوَّقُوْنَ مَا بَخِلُوْا بِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ. وَللهِ مِيْرَاثُ السَمَاوَاتِ وَالأَرْضِ. وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ. (آل عمران: 180)
Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di leher mereka di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (apa yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali Imran : 180)
Adapun keberuntungan atau faedah menafkahkan harta di jalan Allah adalah sangat banyak, diantaranya:
Pertama, Allah menjamin nafkah orang tersebut. Dalam hadits Qudsi disebutkan, "Wahai anak Adam, berinfaklah niscaya Aku (menjamin) nafkahmu." (Muttafaq Alaih)
Kedua, bersedekah bisa menghapuskan dosa. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Puasa adalah benteng, sedangkan sedekah melenyapkan kesalahan (dosa) sebagaimana air memadamkan api." (HR. Ibnu Majah dan Turmudzi, ia berkata hadits hasan shahih)
Ketiga, berinfak adalah salah satu akhlak Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Di antara perbuatan yang sangat beliau cintai adalah memberi, bahkan memberikan sesuatu yang sangat beliau butuhkan sendiri, seperti pakaian yang sedang beliau kenakan. Demikian menurut hadits riwayat Bukhari dari Sahl bin Sa'ad Radhiallahu Anhu.
Keempat, berinfak menyebabkan rezeki bertambah, berlipatganda, berkembang dan penuh berkah. Allah berfirman:
مَنْ جَاءَ بِالحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا. (الأنعام: 160)
Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepulah kali lipat amalnya. (QS. Al-An’am : 160)
Rezeki bukan hanya berupa uang dan kekayaan, akan tetapi rezeki itu meliputi kesehatan, anak yang shaleh, tetangga dan teman yang baik, pekerjaan yang halal, kehidupan yang tenang, itulah yang merupakan bagian dari rezeki yang sangat mahal dan tidak ternilai/terbayar dengan uang. Kita dapat membayangkan betapa banyak orang kaya yang jatuh miskin dalam waktu yang singkat dengan menguras harta kekayaannya untuk mengobati penyakitnya yang tak kunjung sembuh. Maka berbahagialah orang yang diberikan kesehatan oleh Allah.
Kelima, kecintaan Allah dan kecintaan manusia terhadapnya. Orang yang suka memberi akan dicintai orang lain, sebab secara fithrah manusia mencintai orang yang berbuat baik padanya.
Keenam, kemudahan melakukan keta'atan. Allah menolong orang yang suka bersedekah dalam melakukan berbagai keta'atan, sehingga ia merasa mudah melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Allah berfirman,
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى. (الليل : 5-7)
"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (Surga), maka Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah".( QS. Al-Lail: 5-7)
Dan masih sangat banyak lagi manfaat dan keberuntungan dari sedekah. Mudah-mudahan Allah menggolongkan kita termasuk di antara hamba-hamba-Nya yang suka bersedekah. Amin...
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلْ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

الخطبة الثانية
الحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَهْدِيْهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ الله فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى كُلِّ رَسُوْلٍ أَرْسَلَهُ.

وَاعْلَمُوْا أنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ ، أَمَرَكُمْ بِالصَلاَةِ وَالسَلاَمِ عَلَى نَبِيِّهِ الكَرِيْمِ فَقَالَ الله ُتَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ:

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
بسم الله الرحمن الرحيم
{إنَّ اللهَ وملائكتَهُ يصلُّونَ على النبِيِّ يَا أيُّهَا الذينَ ءامَنوا صَلُّوا عليهِ وسَلّموا تَسْليمًا}

اللّـهُمَّ صَلّ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا صلّيتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيم وبارِكْ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا بارَكْتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيمَ إنّكَ حميدٌ مجيدٌ.

اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَعْوَاتِ يَاقَضِيَ الحَاجَاتِ، اللّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَالمُشْرِكِيْنَ، اللّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الكُفْرَ وَالفُسُوْقَ وَالعِسْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَاشِدِيْنَ، اللّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنَّ هذِهِ القُلُوْبَ قَدِ اجْتَمَعَتْ عَلَى مَحَبَّتِكَ وَالْتَقَتْ عَلَى طَاعَتِكَ وَتَوَحَّدَتْ عَلَى دَعْوَتِكَ وَتَعَاهَدَتْ عَلَى نُصْرَةِ شَرِيْعَتِكَ فَوَثِّقِ اللّهُمَّ رَابِطَتَهَا وَأَدِمْ وُدَّهَا وَاهْدِهَا سُبُلَهَا وَامْلَأْهَا بِنُوْرِكَ الَّذِيْ لاَ يَخْبُو وَاشْرَحْ صُدُوْرَهَا بِفَيْضِ الإِيْمَانِ بِكَ وَجَمِيْلِ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ وَأَحْيِهَا بِمَعْرِفَتِكَ وَأَمِتْهَا عَلَى الشَهَادَةِ فِي سَبِيْلِكَ إِنَّكَ نِعْمَ المَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.


عبادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يأمرُ بالعَدْلِ والإحسانِ وإيتاءِ ذِي القربى وينهى عَنِ الفحشاءِ والمنكرِ والبَغي ، يعظُكُمْ لعلَّكُمْ تذَكَّرون. اذكُروا اللهَ العظيمَ يذكرْكُمْ واشكُروهُ يزِدْكُمْ واستغفروه يغفِرْ لكُمْ واتّقوهُ يجعلْ لكُمْ مِنْ أمرِكُمْ مخرَجًا. وَأَقِمِ الصلاة .

Referensi:
Alquran Al-Karim
Khalid bin Nashir Al Assaf, "Anfiq Yunfiqillahu Alaik", bittasharruf.